Pada Jejak ke 7, Kami #MenujuSelamanya

saya iri!

Ransel Hitam

Bersama selamanya Bersama selamanya

Banyak yang berujar bahwa hal yang paling dicari oleh para pejalan adalah rumah, baik untuk sekadar singgah maupun pulang dan tinggal. Seumpama kapal yang menemukan dermaga untuk membuang sauh hingga membuatnya tak lagi berlayar ke tempat jauh.

Awalnya saya mengira seperti itu dan memang seperti itu. Dia adalah tempat saya pulang untuk menyandarkan hati. Dia adalah sosok yang memberikan kenyamanan berlimpah saat saya lelah usai melakukan perjalanan panjang. Dia adalah pribadi yang selalu menanti saya kembali sejauh apa pun saya pergi.

Tujuh tahun berlalu seperti itu. Saya berlari, dia menanti. Saya berkelana, dia tetap ada di sana. Bahkan saat saya berusaha menjauh, dia tetap percaya bahwa pada akhirnya saya akan berlabuh.

Hingga akhirnya saya berpikir tidak bisa selamanya seperti ini. Akan tidak adil jika dia hanya saya jadikan rumah persinggahan. Jika memang ingin #MenujuSelamanya kami harus melangkah bersama. Tidak ada yang tinggal, tidak ada yang pergi.

Setelah tujuh…

Lihat pos aslinya 121 kata lagi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s